Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Bentuk Taruna Tani, HKTI Ingin Pemuda Berprofesi Sebagai Petani

19 May 2017 // 20:00 // EKONOMI, HEADLINE

20170519_162539

SURABAYA (suarakawan.com) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur (Jatim) membentuk Taruna Tani untuk mendorong pemuda untuk berprofesi sebagai petani. Kelompok ini akan mendidik siswa sekolah menengah agar tertarik untuk menjadi petani.

“Taruna Tani ini merupakan program kerja HKTI untuk mendorong pemuda agar mau menjadi petani,” kata Ketua HKTI Jatim, Imam Mawardi kepada wartawan usai pembukaan Pameran HKTI di Grand City, Surabaya, Jumat (19/5).

Saat ini, diakui banyak pemuda, terutama yang lulusan sekolah menengah tidak tertarik untuk menggeluti pertanian. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau perusahaan dibandingkan bertani.

“Kami siap menyekolahkan siswa lulusan sekolah menengah untuk menimba ilmu di perguruan tinggi khusus bidang pertanian. Syaratnya, ketika lulus harus bersedia bergerak mengembangkan sektor pertanian,” ujarnya.

Menurutnya, setiap tahun puluhan ribu hektar tanah subur di wilayah Jatim beralih fungsi menjadi pabrik, perumahan, atau jalan tol. Kondisi ini dikarenakan para pemilik lahan sudah tidak mau repot bercocok tanam, salah satunya disebabkan faktor usia.

Tawaran yang diberikan perusahaan dan pengembang perumahan lebih menggiurkan dibanding hasil panen yang mereka dapat. “Pemerintah harus dapat mencegah agar petani tidak menjual lahannya. Jangan sampai mereka dari petani menjadi buruh tani,” paparnya.

Disisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, tingkat kesejahteraan petani di Jatim turun 0,15%. Kondisi ini disebabkan karena penurunan indeks harga yang diterima petani lebih besar dibanding penurunan indeks harga yang dibayar petani.

Penurunan pada sub sektor tanaman pangan sebesar 0,85% dari 97,40 menjadi 96,57. Hortikultura sebesar 0,13% dari 101,70 menjadi 101,57. Sedangkan sub sektor yang naik yakni peternakan sebesar 0,39% dari 108,34 menjadi 108,76. Diikuti perkebunan 0,23% dari 98,74 menjadi 98,97.

Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf menambahkan, tahun ini, Jatim masih menghadapi tantangan di sektor pertanian. Diantarnya, alih fungsi lahan pertanian sekitar 1.100 hektar per tahun. Meski begitu, pihaknya tetap mendorong agar kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) bisa naik.

Saat ini, kontribusi sektor ini hanya 14,18% dari pertumbuhan ekonomi. Diharapkan bisa naik menjadi 17%. “Pameran yang digelar HKTI ini kami harapkan bisa memajukan sektor pertanian dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim bisa lebih tinggi,” katanya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini