Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Banyaknya Pengusaha Keturunan Cina, Begini Penjelasan Wapres JK

25 Apr 2017 // 18:31 // EKONOMI, HEADLINE

jk

JAKARTA (suarakawan.com) – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyentil isu perihal banyaknya pengusaha keturunan Cina di Indonesia. Menurut Kalla, ada beberapa alasan jumlah pengusaha keturunan Cina terus bertambah. Hal tersebut disampaikan saat penutupan Kongres Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia 2017.

“Sederhana sekali kalau mereka punya tolok ukur yang diterapkan ke keluarganya,” ujar Kalla saat menutup kongres tersebut di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (24/4).

Kalla menjelaskan, yang dimaksud dengan tolok ukur adalah pengusaha keturunan Cina kerap meminta anggota keluarganya mengikuti usaha yang telah dijalani. Bahkan, kalau perlu, mengembangkannya. Sebagai gambaran, jika seorang pengusaha punya anak lima, kelimanya akan dimotivasi untuk menjadi pengusaha juga atau melanjutkan usaha keluarga.

“Misalnya punya toko, anaknya diminta bikin toko yang lain. Anak-anaknya buka toko lagi. Jadinya berkembang (usahanya),” ucapnya.

Selain itu, keturunan Cina akhirnya menjadi pengusaha karena dipersulit untuk bekerja di pemerintahan dan militer.

“Mungkin Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) saja yang beda. Ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dulu enggak ada yang bisa seperti itu,” ujarnya.

Nah, hal yang dialami warga keturunan Cina itu kontras dengan keluarga non-keturunan. Setahu Kalla, kebanyakan keluarga non-keturunan Cina memperbolehkan anaknya menjadi apa pun. Walhasil, dalam satu keluarga dengan banyak anak, pasti ada yang mau menjadi tentara atau pegawai negeri sipil.

“Jadinya enggak tambah-tambah pengusahanya. Kadang lanjut usahanya, kadang tidak lanjut juga. Misalnya punya toko, ya toko itu aja. Kalau pengusaha Tionghoa, bikin toko lain,” ucapnya. (tc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini