Arek Ndeso Jadi Idola Remaja Indonesia

1 komentar 5 views

GRESIK (suarakawan.com) – Meski SUNNI pemenang Boy’s and Girl Band Indonesia (BGBI) dari SMA Negeri 1 Sidayu Gresik sudah menjadi bintang dan idola baru, 8 personil SUNNI tetap bersahaja dan bersahabat. Terlebih saat kembali ke sekolah kampung halamannya. Walau sudah menjadi grup kenamaan, mereka tetap bertegur sapa dengan kawan-kawan sekolah maupun masyarakat luas yang berkunjung menyambut kedatangannya.

Isak tangis kegembiraan seorang pelajar yang berhasil menjuarai event sekelas BGBI pun meledak ketika melihat sambutan bupati, tokoh – tokoh masyarakat hingga sanak keluarga yang selalu mendukungnya.

Berawal dari iseng setelah mengetahui sebuah layanan iklan yang disiarkan salah satu televisi swasta, sehabis mengikuti Ujian Tulis Akhir (UTS) 8 pelajar SMAN 1 Sidayu yang berasal dari desa berbeda itu pada 22 oktober 2011 mereka membentuk sebuah grup bernama “SUNNI”, dan bergegas mendaftarkan diri untuk mengikuti audisi BGBI di Surabaya, 8 pelajar pemberani tersebut adalah Alfinatul Mufitdah atau yang biasa disapa Fitda asal Desa Bungah Gresik, Oya asal Desa Tanjung , Laily asal Desa Sidayu, Rina dari Desa Golokan, Fita dan Dita asal Desa Gumeno, Luly dan Rosi asal Desa Delegan kecamatan Panceng.

Kepada suarakawan.com Fitda menjelaskan dipilihnya nama SUNNI itu merupakan singkatan sekaligus harapan, SUN berarti matahari dan kata NI diambil dari jumlah personil kala itu 9 orang yang berarti nine.

“Awalnya jumlah personel kita ada 9 anak, namun pada saat audisi dimulai 1 teman kami tidak mendapat restu orang tuanya jadi dengan terpaksa mengundurkan diri,” jelas Fitda.

Aktris cantik tersebut berkisah, saat dia dan teman – temannya akan berlatih sering mengalami kendala, dan yang paling serius adalah letak rumah yang jauh dari sekolahan tempat mereka biasa berlatih,

“Namun, alhamdulillah pak Zainal pembimbing kami dengan sabar menjemput bahkan sering juga mengantar temen-temen hingga sampai rumah,” ucap Fitda sedu sedan.

Biasanya latihan SUNNI biasa dimulai jam 2 sepulang sekolah hingga pukul 4 sore, namun setelah menjelang audisi dimulai menu latihan ditambah hingga larut malam, sekitar jam 9-10 malam baru selesai.

“Jadi praktis anak-anak hanya memiliki waktu sekitar 7 hari untuk berlatih, karena audisi diadakan pada tanggal 29 dan 30 oktober,” tutur Zainal Arifin guru olah raga SMAN 1 Sidayu yang sehari-hari menemani SUNNI berlatih.

Zainal menambahkan, meski tidak memiliki cukup biaya, Personel SUNNI yang biasa menjuarai perlombaan tersebut masih memiliki sisa tabungan 300 ribu rupiah hasil dari hadiah lomba dance yang diadakan di salah satu Mall di Surabaya.

Setelah berhasil masuk 20 besar di Surabaya SUNNI pun mengikuti audisi di Jakarta agar masuk dalam 15 besar.

Nah, begitu masuk 15 besar, sontak perhatian masyarakat tersedot kepada sosok personil SUNNI. Cerita dari mulut ke mulut mulai tersebar dikalangan pelajar,komunitas kongkow di warung-warung kopi hingga pemerintah kabupaten menaruh perhatian besar terhadap kelangsungan perjuangan SUNNI di Jakarta.

90 ribu kartu perdana diborong sekolahan yang beralamat di jl. Raya Deandles tersebut, dana dihasilkan dari sumbangan para donatur dan simpatisan SUNNI.

nama SUNNI mulai melambung jadi menu perbincangan di sudut-sudut desa, kantin-kantin sekolahan dan perkantoran. saat itu di benak masyarakat hanya berharap semoga perjuangan SUNNI berhasil.

“Disana kami ditangani langsung oleh tante Dewi Sandra,dan mengenai ketertinggalan pelajaran sekolah kami tidak khawatir karena disana disediakan Home Scholling” kenang Fitda.

Saat ditanya soal banyaknya hadiah yang diterima, SUNNI mengaku akan disumbangkan sebagian untuk membantu pembangunan masjid di sekolah, kedua orang tua dan membantu kawan-kawan sesama yang membutuhkan.

“Kalau soal kontrak, kila lihat saja nanti. Yang pasti kami akan tetap sekolah, sementara untuk show ke Jakarta bisa disiasati dengan transportasi udara,” timpa salah satu personil SUNNI.

Namun, saat pertama kali akan berangkat ke Jakarta untuk audisi 15 besar,sempat terlontar kekhawatiran dari keluarga masing-masing personil, kebanyakan dari mereka malah mendo’akan supaya SUNNI gagal dan secepatnya kembali ke bangku sekolah, kekhawatiran orang tua tersebut cukup beralasan, selain minimnya biaya juga kekhawatiran akan ketertinggalan mata pelajaran.

“Waktu itu kami tidak setuju, namun apa boleh buat anak-anak terlalu bersemangat,” ucap Siti Niswat (41) ibunda Rina asal desa Golokan.

“Dengan tekad bulat, bermodalkan uang 1 juta hasil iuran seluruh pelajar SMAN 1 Sidayu ditambah 500 ribu pemberian pak Zainal dan sedikit uang saku, bismillah kami berangkat ,” kelit Laily.

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Sidayu, dengan berkaca-kaca menjelaskan pada saat pemberangkatan pertama ke Jakarta, teman-teman sekelasnya malah ada yang menyumbangkan pakaian dan celana.

maka tak heran setelah memenangkan ajang Boy’s and Girl Band Indonesia (BGBI), 8 pelajar yang menginjak dewasa tersebut begitu histeris ketika mengetahui sambutan masyarakat yang begitu luar biasa.

“Hanya dengan tekad dan niat baik, semua usaha pasti ada jalannya,” tutup Fitda berbinar-binar.(ika/jto)

 

Satu Respon

Tinggalkan pesan "Arek Ndeso Jadi Idola Remaja Indonesia"