Apes.. Jual Rumah Ke Polisi Malah Terancam Di Bui

kuasa hukum Ayu menunjukkan surat dari Polrestabes

SURABAYA (suarakawan.com) – Urusan jual beli di zaman sekarang,harus ekstra hati-hati,kalau tidak bisa tersangkut kasus hukum apalagi kalau terkait dengan pembeli dari Polisi.

Seperti yang dialami Ayu Widyawati Widjaya(39) warga Perumahan Bumi Suko Indah, Sidoarjo. Gara-gara menagih hutang sisa pembayaran rumah kepada seorang polwan bernama Iptu Yatini,  Ayu Widyawati Widjaya (39) terpaksa dipolisikan.

Menurut kuasa hukum Ayu,Rommel Sihole, kronologis kasus ini berawal dari jual beli rumah.   “Ayu berniat menjual rumah ini pada 2006 lalu. Kebetulan saat itu ada Iptu Yatini yang mendengar keinginan Ayu ini sekaligus menawarkan sebagai pembeli. Kemudian setelah terjadi tawar-menawar, mereka pun menyepakati harga Rp 120 juta untuk rumah tipe 36 itu,”ujar Rommel,Minggu(24/07).

Ia menambahkan,setelah itu, Yatini  mentransfer uang Rp 60 juta ke rekening Ayu. Tak hanya itu, ketika Ayu berkunjung ke kantor Yatini ia langsung diberikan bukti transferan itu.Meski begitu, Ayu masih bersikukuh tak mau memberikan sertifikat pada Yatini sebelum melunasi pembayarannya.

“Perjanjian jual beli Februari 2006 itu, dituliskan bahwa sisa pembayaran Rp 60 juta akan dibayarkan selambat-lambatnya pada Februari 2007,”kata Rommel.

Namun,sebelum terjadi pelunasan, Iptu Yatini mengalami masalah keluarga sehingga meminta izin untuk menempati rumah yang baru di bayar separuh tersebut.

“Karena antara klien saya dengan Yatini ada hubungan baik,serta yakin akan dilunasi,maka permintaan itu dikabulkan,bahkan beserta perabotnya”kata Rommel.

Seiring perjalanan waktu. Ternyata, pembayaran sisa itu tak pernah ada. Ayu menunggu hingga Maret 2007 pelunasan pembayaran itu tak pernah ada.

“Ternyata Yatini ini tak memenuhi janjinya di kwitansi, yaitu membayar sisa uang muka dalam jangka waktu setahun,” tambahnya

Rommel menceritakan mengetahui kondisi tak beres, kliennya sudah meminta Yatini untuk bertemu untuk membahas permasalah hutang piutang ini. Namun, Yatini selalu membelit dan tak muncul-muncul.Meski kesal, Ayu tetap bersikukuh untuk meminta haknya melalui cara lain. Yaitu, Ayu minta ijin memasuki rumah yang dibeli Yatini ini melalui sms.

” Yatini setuju, bahkan gembok itu dibuka atas persetujuannya,” tutur Rommel.

Ironisnya  beberapa hari kemudian di tahun 2007, Ayu dipanggil ke Polrestabes atas empat kasus sekaligus. Tentu saja, yang melapor adalah Yatini.Menurut Rommel, akibat perbuatan itu Justru Ayu yang dilaporkan Penggelapan, Pengrusakan, penipuan dan perbuatan tak menyenangkan oleh Yatini. Yang luarbiasa, hanya dalam waktu seminggu,kliennya ditetapkan menjadi tersangka.

“Padahal saat Ayu memasuk rumahnya dengan cara ‘Paksa’ tadi, barang-barang di sana juga menghilang tak tahu kemana,” jelas Rommel.

Apalagi Ayu kini dibuat bingung karena menerima surat dari polrestabes Surabaya yang menyatakan kasusnya telah P21 dan diminta datang pada Senin (25/7).Karena itu, 22 Juli kemarin ia melaporkan Iptu Yatini ke Propam Polda.

“Dalam laporan no STPL/229/VII/2011/Yanduan itu kami laporkan kesewenang-wenangan Yatini dan penyidik,yang menjadi korbankan klien saya” protes  Rommel.

sementara itu, Iptu Yatini ketika dikonfirmasi terkait peristiwa ini mengatakan dirinya adalah korban.”Masalah ini sudah saya laporkan ke Polrestabes,jadi tanya aja penyidiknya  langsung,saya lapor karena merasa menjadi korban” ujarnya melalui seluler.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Indarto menuturkan,kasus ini sudah 6 tahun lalu,dan sudah di nyatakan P21, maka secara aturan hukum,kasus ini harus dilanjutkan untuk dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Terkait siapa yang benar dan siapa yang salah,bisa dibuktikan di pengadilan.Saya hanya melaksanakan tugas untuk memberi kepastian hukum pada semua kasus yang dalam proses,”tutur Indarto.

Alumni Akpol ’95 ini menjelaskan,pihaknya bertindak berdasarkan profesionalisme dalam menyelesaikan kasus-kasus.”Kalau sudah P 21,tugas polisi selanjutnya melimpahkan ke kejaksaan,”ujarnya.(Wis/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *