Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Antisipasi Radikalisme, Pencak Silat Porsigal Siap Bentengi NKRI

21 Jul 2017 // 20:41 // ALL SPORTS, HEADLINE, OLAHRAGA

silat1

SURABAYA (suarakawan.com) – Pendidikan Olahraga Silat Indah Garuda Loncat (Porsigal) yang merupakan perguruan silat bernafaskan Aswaja menyatakan siap menjadi benteng NKRI. Ini dilakukan mengantisipasi terhadap ancaman radikalisme yang belakangan tumbuh subur di Indonesia sehingga dinilai sebagai ancaman yang serius. Hal ini disampaikan pendekar Porsigal, Chusainuddin.

“Porsigal siap menjadi benteng NKRI, karena itu Munas pertama Porsigal yang digelar hari ini sampai 23 Juli di Udanawu Blitar, mengambil tema Lestarikan Budaya untuk Pertahankan NKRI. Itu bentuk komitmen para pendekar Porsigal,” tegas pria yang akrab disapa Mas Udin itu, Jumat (21/7).

Wakil Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPRD Jawa Timur ini mendorong pemerintah agar lebih memasyarakatkan pencak silat. Karena itu, pihaknya mendorong pencak silat masuk dalam kurikulum pendidikan di Jatim. Alasannya, pencak silat bukan hanya mengajarkan ilmu bela diri dan olah tubuh. Sebab, di dalam pencak silat terkandung nilai-nilai sportifitas, nasionalisme dan cinta tanah air.

“Seorang pendekar silat itu pasti berpihak pada kebenaran dan siap berkorban untuk tanah air, tepat untuk meredam radikalisme. Karena itu saya mendorong seni bela diri itu masuk kurikulum pendidikan di Jawa Timur. Bisa masuk ke muatan lokal atau ekstra kurikuler resmi,” tutur juara pencak silat se-Jatim di era 90’an itu.

Chusainuddin mengungkapkan, di Jawa timur banyak perguruan silat yang lahir dari pondok pesantren berlatar Nahdlatul Ulama (NU), seperti Pendidikan Olahraga Silat Indah Garuda Loncat (Porsigal), Pagar Nusa dan Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia (GASMI). Cikal bakal Porsigal sendiri berasal dari Pondok Pesantren Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) pimpinan Alm. Hadrotus Syaikh KH. Abdul Djalil Mustaqiem yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan oleh KH. Muhammad Gholib Thohir. Karena itu, Porsigal dan perguruan silat yang lahir dari pondok pesantren kental dengan nilai-nilai religi.

Ajudan Menteri Tenaga Kerja  di era Muhaimin Iskandar ini berharap pemerintah memberi perhatian terhadap perkembangan pencak silat di Jawa Timur, termasuk perguruan silat yang ada di pondok pesantren. Karena banyak bibit pesilat tangguh yang berada di dalam tembok pesantren yang tidak terpantau oleh Ikatan pencak Silat Indonesia (IPSI) sebagai induk olahraga beladiri, maupun Kemeterian Olahraga maupun Dispora.

“Di cabang olahraga sepakbola, Menpora Imam Nahrawi sudah menginisiasi liga santri. Saya usulkan Menpora juga perlu menggelar turnamen silat khusus santri, mungkin seperti pencak dor tapi skala nasional. Saya yakin akan banyak bibit-bibit pesilat tangguh yang berasal dari santri,” tegas alumni Ponpes PETA Tulungagung ini. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini