Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Antara Ki Gendeng Pamungkas dan James Riyadi

25 Aug 2017 // 10:09 // OPINI, SUARA PEMBACA

Oleh: Muslim Arbi

Siapa yang tidak kenal Ki Gendeng Pamungkas (KGP), paranormal kondang yang sekarang sedang di tahan di Lapas Kelas II, Paledang Bogor karena tuduhan menyebarkan kebencian SARA (Suku Agama, Ras dan Antar golongan) yang telah di sidang yang ke 2 kali nya di PN Bogor.

Yang satu nya lagi adalah James Riyadi, bos Lippp group, putera Taipan Mochtar Riyadi, dan pemilik Proyek Raksasa Meikarta seluas 2.200 ha di Cikarang, Jawa Barat yang kontroversi dan sedang di sorot pejabat, aktivis dan publik karena membangun tanpa izin.

Bila membandingkan Ki Gendeng Pamungkas dan James Riyadi, dalam kasus SARA dan Meikarta adalah yang satu Pejuang dan Satu Semena-mena. Betapa tidak?

Apa yang disuarakan oleh KGP dengan Cinaisasi itu adalah adalah Fakta dan Fenomenal. Baik Nasional, Kawasan, Regional, maupun internasional.

Dan, tindakan Lippo group yang di pimpin James Riyadi dalam Proyek Kota Meikarta yang tanpa izin itu adalah tindakan semena mena, melanggar hukum dan sebuah bentuk teror dan tindakan radikal kepada negara (pengamat politik muslim arbi, Indonesia Today, 17 Agustus 2017).

Bayangkan, tanpa izin, dan disebutkan oleh Wagub Jabar, Deddy Mizwar, “negara dalam negara”, toh seakan tidak di gubris, malah Lippo tetap lakukan promosi dan penjualan.

James Riyadi dan para taipan properti lain nya termasuk dalam kelompok yang di anggap 9 naga. Oleh Kwik Kian Gie, dianggap berada di belakang PDIP dan konon menjadi cukong saat pilpres 2014, maupun pilgub DKI 2012 lalu. Dan kelihatannya kelompok ini seperti super power yang tidak bisa di lawan termasuk jika ingin menghendaki sesuatu.

Lihat saja, proyek properti Raksasa Meikarta, yang di bangun sejak 2015, di era Presiden Joko Widodo, meski tanpa izin toh, tetap jalan dan lancar-lancar saja. Apa mungkin, karena merasa sebagai Presiden Man, sehingga dengan sewenang wenang mau lakukan apa saja, tanpa ada yang halangi? Bisa saja Meikarta ini dianggap Makar kepada Negara dan Pemerintah karena keberadaan Negara dan Pemerintah sudah tidak dianggap lagi.

Nama Meikarta ini, oleh Aktivis menyebut nya sebagai perpaduan Mei dan Jakarta, seolah nama Meikarta ini ingin mengabadikan Peristiwa Mei 1998. Karena nama Meikarta belum di temukan dalam terminologi yang selama ini ada. Apakah Lippo group dan James Riyadi mau abadikan Peristiwa 98, karena dianggap Tragedy Anti Cina? Dengan kemasan Proyek Properti itu?

Memposisikan KGP dan James Riyadi (JR), jelas membawa pesan sendiri. Di tengah dominasi etnis Cina dan Perekonomian, Konglomerasi juga keuangan dan penguasaan aset nasional seperti sekarang, jelas beda.

KGP berjuang demi kaum lemah dan tertindaas dari kalangan Kaum Pribumi, sedangkan JR karena merasa kuat di beking Istana, sehingga mau melaksanakan apa saja demi bisnis nya dan kaum nya. Sehingga JR seolah membawa misi cinaisasi Daratan maupun Overseas.

Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa Aparat penegak Hukum, apakah sudah dirasuki hilang nya rasa cinta tanah air dan kaum pribumi sehingga menangkap, penjarakan dan adili KGP dengan pasal-pasal yang terkesan di cari-cari? Padahal Suara Ki Gendeng Pamungkas soal isu-isu Pribumi dan Cina itu adalah sebuah fenomena ekonomi, sosial dan hukum (Kasus Ahok) dalam kontek Kebenaran dan Keadilan, bukan?

Dan, apakah aparat seolah membiarkan sepak terjang Lippo Group dalam kasus Meikarta itu, sebagai sebuah kebenaran dan kesemestian, sehingga membiarkan James Riyadi demi misi dan bisnis nya berbuat apa saja?

Maka, melalui tulisan ini, penulis mendesak agar Ki Gendeng Pamungkas segera di bebaskan atas nama Kaum Pribumi Menggugat dan Pemerintah segera mengambil tindakan atas Proyek Meikarta dengan menghentikan nya sebagaimana yang di suarakan Publik, Aktivis juga khusus nya dari teman-teman Walhi Jawa Barat. Juga suara Wagub Jawa Barat, Kang Deddy Mizwar.

Apa pun Ceritanya bagi Kalangan Pribumi Menggugat, Ki Gendeng Pamungkas adalah Pahlawan, sebagaimana Tokoh-tokoh dan Aktivis Pergerakan seperti Dr Sri Bintang Pamungkas, Mohammad Hatta Taliwang dsb nya. Dan tindakan Lippo Group dan James Riyadi; bos nya seolah Penjajah Ekonomi yang sedang berusaha untuk langgengkan bisnis dan penjajahan nya. Karena seolah merasa Presiden adalah Boneka Pinokio nya?

Bebaskan Ki Gendeng Pamungkas Sekarang
Wallahu’alam.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini