Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Alami Penyiksaan di Malaysia, TKW Asal Jember Dipulangkan

08 Nov 2017 // 05:11 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

perkosaan

JEMBER (suarakawan.com) – Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, Siti Romlah (35) mengalami penyiksaan di Malaysia dan dipulangkan dalam kondisi sakit dengan bekas luka di beberapa bagian tubuhnya.

TKW yang bekerja selama lima tahun tersebut menjalani perawatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Gumukmas karena mengeluh sering pusing dan terbaring lemah di salah satu ruangan puskesmas setempat.

“Saya sering mendapat perlakuan yang kasar dari majikan seperti disiram air panas, dipukul benda tajam dan benda tumpul yang ada di dapur,” kata Siti Romlah saat ditemui sejumlah wartawan di Puskesmas Gumukmas, Selasa.

Siti Romlah yang merupakan warga Dusun Jati Agung, Desa/Kecamatan Gumukmas tersebut berangkat ke Malaysia pada 2012 melalui jasa calo tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember.

“Saya bersama empat TKI lainnya yang berada di rumah majikan juga sering mendapat penyiksaan, sehingga saya minta dipulangkan karena tidak betah dengan perlakuan kasar majikan di sana,” tuturnya.

Selama lima tahun bekerja di Malaysia, lanjut dia, hanya satu kali mengirim uang kepada keluarganya di Kecamatan Gumukmas sebesar Rp2,5 juta dan mendapatkan uang untuk pulang sebesar Rp3 juta, namun tidak mendapatkan sisa gajinya selama lima tahun.

“Saya hanya mendapat uang Rp2,5 juta dan sudah dikirim ke keluarga, setelah itu tidak mendapatkan gaji lagi dari majikan,” ujarnya.

Perempuan yang memiliki satu anak tersebut mengaku trauma dengan kekerasan yang dialami selama menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia, bahkan kadang-kadang pandangan matanya kosong menerawang ke depan saat diajak bicara.

Sementara Kepala Puskesmas Gumukmas dr Erlina Hadi mengatakan pihak puskesmas akan memberikan perawatan dan pengobatan sesuai dengan keluhan pasien yang mengaku sering mengalami pusing.

“Kami akan mengobati sesuai keluhan yang disampaikan kepada petugas kesehatan di puskesmas dan mengembalikan psikis pasien. Untuk bekas luka di beberapa bagian tubuhnya sudah kering dan tidak memerlukan pengobatan,” katanya.(ant/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini