6 Bulan, 8 Kasus Kekerasan Terhadap Pers

Tidak ada komentar 6 views

Andreas Wicaksono (kiri) dan Athoilah (kanan)

SURABAYA (suarakawan.com) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Surabaya dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya mencatat ada 8 kasus kekerasan terhadap pers dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, yang menimpa media maupun jurnalis di wilayah Jawa Timur.

Sepanjang Januari hingga Juni 2011, media maupun jurnalis mengalami tindak kekerasan dan intimidasi berupa teror, pemukulan, menghalang-halangi tugas jurnalis, upaya kriminalisasi hingga pelarangan penayangan film.

“Ini sangat memprihatinkan, karena dalam 6 bulan terakhir, paling tidak ada sekali peristiwa dalam sebulan, kekerasan yang dialami jurnalis,” kata Athoillah, Direktur LBH Pers Surabaya, Selasa (12/07).

Delapan kasus yang dicatat adalah kasus pembatasan liputan oleh Kepolisian di Malang, pelarangan pemutaran opera Tan Malaka oleh aparat di Batu-Malang dan Kediri, tindakan menghalang-halangi dan ancaman terhadap jurnalis di Pamekasan madura, ancaman pembunuhan wartawan di Nganjuk, kekerasan dan tindakan menghalang-halangi jurnalis dalam aksi Falun Gong di Surabaya, ancaman terhadap wartawan oleh FPI di Pamekasan Madura, Kekerasan pada wartawan di Banyuwangi, serta pelarangan meliput mogok kerja buruh bangunan oleh Konjen AS di Surabaya.

“Dari 8 kasus pelanggaran UU 40 tahun 1999 tentang Pers, 3 diantaranya dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam hal ini Polisi dan TNI, yang seharusnya telah memahami UU itu namun ternyata prakteknya banyak aparat yang mengaku tidak tahu,” ujar Athoillah saat menyampaikan laporan setengah tahun kebebasan pers di kampus Unika Widya Mandala Surabaya.

LBH Pers Surabaya bersama AJI Surabaya serta organisasi pers maupun kelompok hak asasi manusia lainnya akan mengupayakan pertemuan dengan pihak-pihak terkait untuk mensosialisasikan terus menerus UU tentang kebebasan pers ini.

“Kita upayakan bisa membuat MoU dengan Kapolda, maupun instansi lain agar penanganan masalah kekerasan terhadap pers menggunakan UU Pers,” lanjut Direktur LBH Pers Surabaya Athoillah.

Sementara itu AJI Surabaya akan menggandeng semua elemen untuk ikut serta memperjuangkan kebebasan pers berjalan sesuai undang-undang yang berlaku.
“Semoga undang-undang ini tidak hanya menjadi macan kertas,” ujar Andreas Wicaksono, Sekretaris AJI Surabaya.

Menurut Andreas Wicaksono, selama ini kasus kekerasan terhadap pers tidak pernah menggunakan UU Pers dalam menanganinya, sehingga banyak pekerja jurnalis yang menjadi korban kekerasan saat menjalankan tugas.

“Semua kasus kekerasan terhadap pers tidak pernah ada yang tuntas. Lantas hak masyarakat untuk memperoleh informasi juga dilanggar bila kerja pers dihalang-halangi,” tandas Andre yang aktif sebagai jurnalis televisi swasta.(PetrusR/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "6 Bulan, 8 Kasus Kekerasan Terhadap Pers"