Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || "Semarak HUT RI yang ke 69 untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Republik Indonesia Sesungguhnya untuk Memajukan Negara serta Rakyat Indonesia Sejahtera & Makmur BUKAN Menggerogoti aset-aset Negara & menjadi Koruptor-koruptor Negara" ||

Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tahu Kediri Terancam Gulung Tikar

02 Jan 2013 // 10:06 // EKONOMI

KEDIRI (suarakawan.com) – Harga kedelai naik sebanyak 148 perusahaan Tahu berskala kecil dan menengah terancam gulung tikar.

Data yang dihimpun dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri menyebutkan, dari 148 perusahaan Tahu yang ada di Kota Kediri, kini jumlahnya berkurang 1 persen. Tidak menutup kemungkinan jumlah itu akan bertambah, seiring melambungnya harga bahan baku pembuat Tahu tersebut.

Dikatakan oleh Herman selaku pemilik usaha pembuatan Tahu Bah Kacung, beralamat di jalan Trunojoyo Kelurahan Pakelan Kota Kediri, Harga kedelai sekarang cenderung, masih tetap stabil tinggi. “Harga kedelai impor dengan kualitas baik, per kilonya mencapai Rp 5.250 ribu,” jelasnya, Rabu (02/01)

“Kenaikan harga kedelai ini mulai dirasakan sejak Hari Raya Idul Fitri tahun lalu hingga sampai sekarang,” lanjutnya.

Herman menambahkan, sebelumnya harga kedelai hanya Rp 2250 per kilo. Ironisnya, kenaikan harga kedelai itu, dibarengi juga dengan kenaikan harga besek pembungkus tahu.

Dengan kondisi seperti itu Herman, terpaksa menaikan harga tahu yang dijualnya ke pelanggan.

“Saya nggak mau mengurangi porsi yang sudah ada, takut pelanggan kecewa. Lebih baik harganya saya naikan saja,” ujar Herman.

Sementara itu, terpisah Sentra Kelompok usaha pembuat Tahu di lingkungan Kelurahan Tinalan Kecamatan Pesantren Kota Kediri memperkirakan harga kedelai tetap stabil tinggi tidak akan mengalami penurunan.

Menurut Winarso (39), kenaikan harga kedelai dipicu karena minimnya jumlah petani kedelai saat ini.

Winarso memberi contoh, untuk jumlah, petani kedelai di wilayah Nganjuk misalnya kini banyak yang beralih bercocok tanam ke tanaman Jagung.

“Kalau panen raya, harga kedelai cenderung turunya banyak, melihat keadaan seperti itu, kemudian banyak petani beralih cocok tanam ke tanaman Jagung,” papar pria yang mengaku memiliki usaha pembuatan tahu stick ini.

Winarsoh mengeluh, dengan kondisi tingginya harga kedelai, ia terpaksa mengurangi produksi pembuatan tahu stick miliknya.

“Sebelum ada kenaikan, biasanya, kita produksi memakai bahan kedelai sampai 20 kilo mas, kini cuman berani 10 kilo,” katanya.

Karena adanya kenaikan harga kedelai itu, ia terpaksa ikut menaikan harga stik tahu. Dari sebelumnya 5 ribu rupiah per bungkus, kini menjadi 6 ribu rupiah.

“Banyak pelanggan saya yang berkurang dengan kondisi seperti ini,” keluhnya.

Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Heri Siwsanto dikonfirmasi terkait menurunya usaha industri pembuatan tahu saat ini membenarkan, meski penurunan pelaku usaha pembuatan tahu hanya 1 persen, angka tersebut, tergolong cukup tinggi, mengingat, latar belakang pelaku usaha pembuatan tahu kebanyakan,dari turun temurunn warisan keluarga.

“Bagi kami angka penurunan 1 persen itu, cukup tinggi.Mengingat usaha itu kan dirintis turun temurun dari lingkungan keluarga,” ungkap Heri.(Pen/jto)

 

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda