Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || "Hari Raya Idul Fitri 1435 H / 2014 M, Cermin & Pelajaran dari Nuansa Ramadhan yang Penuh Beramal, Beribadah & Bersyukur kepada Ilahi Ya ROBBI. Serta menjadi Kodrat Manusia Hakiki, Mengasihi, Menyayangi Kepada Sesama Bukan Sebagai Ajang Pamer Kekayaan Duniawi & Kesombongan." ||

Badar, Penjaga Palang Pintu Kereta Api

06 Nov 2012 // 17:37 // KAWAN KITA

SIDOARJO (suarakawan.com) - Sulitnya dunia kerja tak membuat pria dua anak asal  Trenggalek ini berputus asa untuk tetap berkarya di tanah rantau di Surabaya. Bahkan caci makian dan hinaan sering didapatkanya dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Dia adalah Badar (48) warga asli Trenggalek yang sekarang indekos di Kebonsari Surabaya, kini dia bertugas sebagai sukarelawan menjaga palang pintu kereta api yang tak berpintu.

Yang ada di desa Bringinbendo kecamatan Taman kabupaten Sidoarjo.

Dalam menjalankan tugasnya pria paruh baya ini tidak ada ikatan kerja dengan pihak manapun, dia menjalankan tugas tersebut hanya karena rasa iba dengan seringnya kecelakaan yang terjadi di palang pintu rel kereta api tersebut.

“Saya sudah dua tahun ini mas menjaga lintasan kereta di daerah sini, dulu sebelum saya jaga sering sekali pengguna sepeda motor tertabrak kereta di sini,” kata Badar.

Masih crita Badar, meskipun dirinya saat memberikan tanda kepada para pengguna jalan, tidak jarang cacimakian dan hinaan diterimanya.

“Saya sudah sering mas di olok-olok oleh pengguna jalan, padahal saya berniat baik, agar mereka selalu tengok kanan dan kiri saat menyebrangi lintasan kereta ini, namun mereka sering salah terima dan langsung membentak saya. Bahkan ada yang hampir memukul saya, karena dikira saya ikut campur urusan orang lain. Padahal itu saya lakukan demi keselamatan mereka juga,” ujarnya.

Dalam menjalankan tugasnya dia berangkat Jam 5 pagi. Dengan menaiki sepeda anginya dari tempat kosnya hingga selesai menjalankan tugasnya jam 5 sore.

Bahkan tak jarang dia juga sering mendapatkan imbalan walaupun tidak besar.

“Kadang dalam sehari saya dapat 15 ribu, sampai 30 ribu mas, buat saya yang penting bisa cukup buat beli beras satu kilo saya sudah bersyukur mas,” kata dia sambil meneteskan air mata. (dik/era)

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda