Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || 21 April 2014 Merupakan Hari Kartini sebagai penghormatan atas wujud perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita. Kartini ada sebagai pahlawan, bukan dengan tindakan kekerasan, tapi tetap radikal, demi memperjuangkan kebenaran yang dipercayainya.||

Gulat Okol Tradisi Warga Made Yang Mendunia

25 Sep 2012 // 11:19 // BUDAYA, KERAGAMAN

SURABAYA (suarakawan.com) – Ada yang unik dalam budaya adat dari wilayah Surabaya Barat, seperti di desa Made, desa Sambikerep dan lainnya. Mereka melakukan tradisi gulat okol.

Selain bertujuan sebagai silaturahmi, kegiatan pertarungan di atas jerami ini ternyata juga bertujuan mempertahankan buadaya leluhur sekaligus memperkenalkan budaya tersebut ke luar negeri.

Tak ayal, bukan masyarakat setempat saja menonton. Turis pun tertawa melihat adu tenaga tersebut. Apalagi, para peserta okol harus memakai pakaian adat.

Ya, sebelum mereka beradu, iring-iringan alunan gending becek mengantar satu persatu pemain naik ke arena petarungan. Irama musik memang terdengar terasa membakar semangat dan keceriaan di siang yang terik. Tak ayal, saat melangkah mereka tampak lebih gagah daripada Superman ataupun Batman.

Sementara pemandu acara terus berkoar menggiring masyarakat sekitar untuk menyaksikan ajang yang dihelat setahun sekali, yakni September – Oktober.

Selain orang dewasa, para peserta ABG juga terlihat berpartisi layaknya ksatria.

Nah, saat pemandu memberikan tanda dimulai, para peserta langsung mencermati setiap jengkal bagian tubuh lawan yang seolah-olah membaca titik kelemahan lawan.

“Ciaaat……” Mereka berteriak. Berangkulan, menggenggam selendang yang terikat di pinggang lawan. Mencengkram tubuh lawan. Dan sama-sama berusaha menjatuhkan lawan.

Sementara para pengawal atau wasit terus mencermati para peserta yang saling dorong dan saling menjatuhkan. Siapa yang terjatuh, dialah yang kalah.

“Ini sebagai salah satu rangkaian dari upacara adat gulat okolan untuk silaturahmi dan mempertahankan adat,” ujar perangkat desa, Martono, Selasa (25/09).

Dengan penyelenggaraan gulat ini, tidak sekedar memberikan tontonan saja, namun melatih fisik petani. Sebab, gulat okol merupakan hiburan bagi kalanga petani daerah setempat, setelah mendapatkan panen raya. (Bs/jto)

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda