Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || "Semarak HUT RI yang ke 69 untuk Mewujudkan Cita-cita Pendiri Republik Indonesia Sesungguhnya untuk Memajukan Negara serta Rakyat Indonesia Sejahtera & Makmur BUKAN Menggerogoti aset-aset Negara & menjadi Koruptor-koruptor Negara" ||

Berikut Cara Mendidik Anak Dengan Baik

25 Sep 2012 // 08:34 // FAMILY, GAYA HIDUP

SURABAYA (suarakawan.com) – Mendidik anak bukanlah sesuatu yang mudah. Agar tidak menyesal dikemudian hari, sangat diperlukan kesadaran pada tiap orang tua untuk mengenai bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar.

Harus ditetapkan pola pendidikan yang mana yang akan diterapkan untuk anak dan keluarganya. Pembentukan karakter, mental dan kepribadian berawal dari rumah, terutama pada saat golden age dimana anak berumur 1 – 3 tahun. Pada tahun – tahun ini masa egoisentris anak paling kuat. Maka diperlukan fleksibilitas dan pengetatan orang tua dalam mengolah sifat egois tersebut sehingga pada masa dewasa anak akan tumbuh menjadi pribadi yang matang.

Seorang anak yang tidak pernah dikoreksi sejak kecil maka pada saat menginjak sekolah tingkat dasar akan sangat sulit dikoreksi, demikian juga bila saat SD sifat egonya tidak diarahkan dan dikoreksi maka pada saat SMP akan lebih sulit lagi dikoreksi. Hal ini terjadi karena anak menerima pelajaran awal sebagai kebenaran.

Seringkali kita mendengar keluhan orang tua mengenai kenakalan anaknya. Sebenarnya tidak ada anak yang nakal. Semua ‘anak nakal‘ adalah hasil kegagalan orang tua dalam menerapkan pola asuh dan cara mendidik anak yang benar. Sebelum hal itu terjadi pada kita, sebaiknya pelajari beberapa hal penting berikut ini untuk mencegah dan mengatasi anak yang bandel sejak dini:

1.Cara mengingatkan dan menasehati dengan cara berbisik

Bila anak melakukan kesalahan, cara menasehati yang efektif adalah dengan cara berbisik dengan eye to eye level . Membentak, memaki, berkata kasar bahkan memukul hanya akan mempertebal sifat berontaknya. Apabila anak menurut pun lebih bukan karena anak memahami kesalahannya dan bertekad untuk memperbaiki sikapnya tetapi karena adanya rasa takut. Rasa respek terhadap orang tua bisa berkurang yang akibatnya anak menjadi tidak patuh. Dengan merendahkan suara akan membantu juga mengontrol emosi kita dan emosi anak.

2.Berikan reward dan punishment (konsekuensi) yang jelas

Rumah tangga harus memiliki aturan main yang benar. Bila anak sejak dini dikenalkan dan dididik dengan aturan yang jelas, maka sampai dengan dewasa dia akan terbiasa dengan aturan – aturan kehidupan dan mengetahui setiap konsekuensi dari tindakan yang diambilnya. Reward bisa diberikan dalam bentuk sesuatu yang menjadi kesukaan anak dan akan diberikan bila anak melakukan kebaikan – kebaikan, misalnya bila anak sangat menyukai es krim, maka berikanlah bila sikap anak baik dan mematuhi aturan.

Sedangkan punishment / hukuman yang diberikan bukanlah sesuatu yang menyakiti fisik dan hati si anak, melainkan peraturan yang ditegakkan dengan konsukuen dan konsisten dengan kesepakatan yang telah disetujui oleh anak. Punishment yang diberikan misalnya tidak boleh main game, main komputer, nonton tv. Buatlah punishment yang bertingkat dari yang paling ringan sampai berat misalnya dari minta maaf sampai dikurung di kamar mandi sendirian.

3.Kekompakan orang tua dalam menentukan sebuah aturan

Kekompakan orang tua sangat penting. Orang tua hendaknya satu suara dalam menentukan aturan dan jangan saling membatalkan sebuah larangan di depan anak. Bila salah satu suami atau istri tidak setuju dengan larangan tersebut hendaknya diam dan baru membahasnya kemudian tidak di depan anak. Salah satu pihak baik ayah atau ibu juga tidak perlu mengancam anak dengan kata – kata ‘akan diadukan ke ayah, bila…’. Ini akan menghilangkan legitimasi salah satunya. Legitimasi kedua orang tua ayah dan ibu sama pentingnya di depan anak. Jangan sampai salah satu disepelekan.

4.Aturan yang konsisten

Aturan yang dibuat harus dijalankan dengan konsisten dan punishment-nya bukan hanya ancaman belaka, melainkan harus benar – benar ditegakkan dengan tegas supaya anak mempunyai efek jera. Namun demikian, orang tua juga harus bersabar karena setiap ada aturan baru, anak membutuhkan waktu 1 minggu – 2 bulan untuk beradaptasi dan mengubah perilakunya. Pada awalnya anak pasti akan berontak karena sudah menjadi sifat dasar manusia merasa tidak nyaman dengan aturan yang membatasi kesenangannya tetapi lama – kelamaan dia akan bisa paham.

Peraturan juga hendaknya mengikat seluruh anggota kelurga termasuk orang tua, supaya anak menjadi respek terhadap orang tua dan peraturan – peraturan yang ditetapkan.

5.Jangan pelit pujian

Berikan pujian setiap kali anak melakukan kebaikan, seringkali kita temui kejadian orang tua yang memarahi / menghukum anaknya saat berbuat kesalahan. Tapi apa yang orang tua lakukan saat anak berbuat kebaikan? Acuh tak acuh dan tanpa ekspresi. Padahal pujian sangatlah penting untuk anak membangun kepercayaan dirinya dan membuatnya semangat untuk terus berbuat baik. Selain itu juga untuk menanamkan pada anak bahwa berbuat baik sangatlah penting.

6.Libatkan anak dalam permasalahan orang tuanya

Kultur pengasuhan di Indonesia atau kebudayaan timur cenderung menyembunyikan dan menjauhkan permasalahan keluarga atau masalah orang tua dari kehidupan anak. Penyebabnya bermacam – macam seperti anggapan bahwa anak tidak perlu ikut memikul beban pikiran orang tuanya, malu apabila anak sampai membuka aib di depan orang lain, dan berbagai alasan lainnya. Sebaiknya kita memilih pola pengasuhan seperti kebudayaan barat dimana anak – anak sudah dikenalkan dengan masalah yang dihadapi oleh orang tuanya. Melibatkan anak dalam permasalahan orang tua akan membuat anak menjadi merasa dihargai dan jauh lebih bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungan.

7.Bila terjadi perselisihan, mendiagnosa kelakuan anak akan menyelesaikan konflik dengan baik

Konflik atau perselisihan bisa terjadi antar anak bila anak kita lebih dari satu, konflik anak dengan temannya atau dengan tetangga bahkan konflik anak dengan oraang tua. Seperti seorang dokter yang mendiagnosa penyakit pasiennya, kita juga hendaknya mendiagnosa kelakuan anak, gali akar permasalahannya dan cari solusinya. Bila anak yang salah dia harus mendapat konsekuensi, bila orang lain yang bersalah, ajarkan bagaimana anak harus bersikap dengan kesalahan orang lain apakah itu memaafkan, bersabar atau bersikap yang lain yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan, nilai dan norma yang benar.

Terkadang sikap orang tua selalu menyalahkan anak atau salah satu anak sehingga anak menjadi merasa tidak dipercaya dan dianggap sebagai biang masalah. Pihak yang dibela akan mengambil keuntungan dari situasi ini dan mengajarkan anak menjadi manipulative.

Masih banyak cara dan kiat bagaimana mendidik anak yang baik, tapi bila ketujuh cara tersebut di atas diterapkan, niscaya bisa membantu orang tua untuk mengatasi anaknya yang dirasa nakal dan bandel. Bila anak masih kecil, tentu akan lebih baik lagi diterapkan supaya tidak terlambat.(*)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda