Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || "Hari Raya Idul Fitri 1435 H / 2014 M, Cermin & Pelajaran dari Nuansa Ramadhan yang Penuh Beramal, Beribadah & Bersyukur kepada Ilahi Ya ROBBI. Serta menjadi Kodrat Manusia Hakiki, Mengasihi, Menyayangi Kepada Sesama Bukan Sebagai Ajang Pamer Kekayaan Duniawi & Kesombongan." ||

Lokalisasi Dolly Ditargetkan Tutup Tahun 2014

12 Jun 2012 // 13:34 // HEADLINE, POLITIK & PEMERINTAHAN, PROVINSI

SURABAYA (suarakawan.com) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mentargetkan tahun 2014 lokalisasi Dolly, Surabaya akan tutup. Saat ini, Pemprov Jatim sedang menyiapkan langkah-langkah kongkrit untuk menutup lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu.

“Target kita Dolly tutup tahun 2014. Kalau tahun depan (2013-red), tidak mungkin selesai,” kata Gubernur Jatim Soekarwo kepada wartawan Workshop Penanganan Wanita Tuna Susila (WTS) di Jatim di Empire Palace Surabaya, Selasa (12/06).

Sesuai program Pemprov, menurutnya, penutupan Dolly tanpa relokasi. Hal itu baru akan terealisir dua tahun mendatang. Karena, kalau memaksakan penutupan tahun 2013 berarti mengejar kuantitas sehingga kualitas akan tertinggal. “Jangan sampai WTS nanti menjadi obyek dari program, justru harus menjadi solusi,” ucapnya.

Persoalannya, lanjut gubernur yang akrab dipanggil Pakde Karwo ini, pola penutupannya seperti apa. Untuk itu, pihaknya sepakat menyertakan para WTS dalam proses penyelesaian. Karena selama ini, kita gagal menyelesaikan problem sosial dengan struktural.

“Yang kita lakukan sekarang justru lewat “kultural” dilibatkan di dalam proses keputusan. Peraturan Gubernur (Pergub) perlu tapi itu untuk mengeluarkan belanja. Tetapi intinya adalah mereka diajak menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Pihaknya mengaku sudah bertemu dengan Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Buchori. Dalam pertemuan itu, dia minta tolong masalah lokalisasi Dolly perlu dievaluasi. Ternyata, yang paling efektif itu pola yang sudah pernah dilakukan lokalisasi BR (Bangunrejo-red). “Lingkungan disana ibu-ibu yang jaga. Di BR itu, sepanjang lingkungannya ada satgas-satgas yang jaga, dan dia tidak disingkirkan,” terangnya.

Di Jatim, hingga kini terdapat 6.700 WTS yang tersebar di beberapa daerah. Dari jumlah tersebut, 700 orang WTS diantaranya masuk dalam program pengentasan Pemprov. Itupun belum termasuk di Nganjuk, karena di Nganjuk cukup banyak jumlah WTS nya. “Kalau di Surabaya ada 2 ribu WTS dan 253 WTS masuk program pengentasan tahun ini,” tandasnya. (Bng/jto)

Keterangan foto: Gubernur Jatim Soekarwo. (Bng)

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda