10 Pabrik Pengelohan Ikan di Jatim Salahi Aturan

SURABAYA – Sedikitnya 10 pabrik pengolahan ikan di Jawa Timur menyalahi aturan dokumen yang menerima 37 kontainer ikan beku atau sekitar ratusan ton ikan dari China dan Jepang selama tahun 2010, untuk selanjutnya diolah dan diekspor dalam bentuk olahan. Demikian temuan Komisi B DPRD Jatim dalam inspeksi mendadak (sidak) di Balai Karantina Ikan Kelas II Tanjung Perak Surabaya, Kamis (7/4) siang.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Arif Hari Setiawan mengatakan dari hasil rekap yang ditunjukkan oleh Balai Karantina Ikan Kelas II Tanjung Perak Surabaya, ditemukan sedikitnya 10 pabrik pengolahan ikan tersebut, diantaranya  di Pasuruan dan Banyuwangi, Jawa Timur. Lolosnya ijin ini mengakibatkan negara dirugikan mencapai miliaran rupiah. Sebagian besar ikan beku impor diolah berupa ikan kembung, tuna, layang, teri, tongkol kecil, dan ikan asin

“Ini sudah menyalahi aturan. Kami minta Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jatim untuk segera menindaklanjuti pabrik-pabrik itu”, tegas Arif saat dihubungi suarakawan.com, Kamis (7/4).

Sementara itu, hasil sidak beras impor di Pelabuhan Tanjung Perak, dari 250.000 ton beras impor yang ditargetkan 31 Maret 2011, hanya 228.000 ton beras impor yang siap di distribusikan ke Indonesia Timur dan Jawa Tengah.

“Ada sekitar 70.000 ton beras Vietnam dibawa dengan 6 kapal. 4 kapal sedang antri dan 2 kapal sedang bongkar muat”, ujar Arif.

Setelah dilakukan pengecekan dokumen 70.000 ton beras Vietnam itu, dari tingkat keamanannya mulai ijin awal, distribusi hingga penyimpanan tidak ditemukan indikasi penyelewengan. Di Pelabuhan Tanjung Perask, Surabaya hanya sebagai tempat transit saja.

Pihaknya, kata Arif, meminta kepada Dinas Pertanian Jawa Timur bersama Bulog untuk tetap memantau dan mengawasi jalannya beras impor tersebut, yang dikhawatirkan akan masuk ke pasar di Jawa Timur.

Mengenai adanya indikasi masuknya daging impor di Jatim, uagkap Arif, Komisi B DPRD Jatim tidak menemukan daging impor seperti yang diberitakan bahwa produksi daging lokal di Jatim surplus 81 ribu ton, akibat masuknya daging impor.

Rombongan Komisi B DPRD Jatim yang ikut dalam sidak kali ini, antara lain dipimpin Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Arif Hari Setiawan,  H. Subianto, Anwar Sadad dan Muncidah Wahab.  (ara)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "10 Pabrik Pengelohan Ikan di Jatim Salahi Aturan"